Bali Trip Hari 1 : Kemana kami harus pergi?

Ini adalah perjalanan terspontan bersama teman-teman saya (Kezia dan Putri) sejauh ini di hidup saya. Berawal dari rencana ke Pulau Panjang di Jepara dan lanjut jalan-jalan ke Jogja.

Yang berawal dari celetuk saat naik mobil  bersama tiba-tiba putri bilang, “Yaudah yuk minggu depan langsung naik bus ke Jepara!” Kezia menambahkan, “Abis itu, naik bus ke Jogja, terus balik kereta aja hari minggunya ke Jakarta”

Tiba-tiba saya berkata, “Kita mau ngapain lagi ke Jogja?” Kezia menimpali, “Sayang, aja kalau langsung balik dari Jepara.”

Selang beberapa hari saya mengusulkan untuk pergi ke Malang saja. Pantai Tiga Warna terlihat menarik di mata saya saat melihat feed instagram seorang teman.  Setelah bertanya mengenai perizinan, Pantai Tiga Warna sedang ditutup untuk konservasi hingga akhir Juli. Kami memutar otak karena tiba-tiba saja kami sudah beli saja tiket pulang dari Malang naik Matarmaja. Akhirnya, kami memutuskan untuk camping di Pulau Sempu yang berakhir dengan gagal lagi dua hari sebelum keberangkatan. Kabar-kabarnya Sempu tidak boleh dikunjungi lagi karena telah menjadi cagar alam.

Akhirnya, Kami pergi ke Surabaya dengan naik pesawat Sriwijaya seharga Rp 491.000 pukul 05.00 di hari-h perjanjian kami dengan tujuan yang masih belum jelas. Dengan membawa tas daypack dan tas selempang kecil, kami celingak-celinguk di Bandara Juanda kira-kira kemana asiknya. Kami memutuskan naik Damri seharga Rp 30.000 menuju Terminal Purubaya dan tiba-tiba kami berpikir keras. “KE MENJANGAN AJA YUK”

Transportasi ke Menjangan

Calo. Seperti biasa calo sudah mengelilingi kami di Terminal Purubaya bertanya mau ‘Kemana dek? Darimana mbak?’ Seandainya………………………… cowo yang mendekati kami segitu hebohnya juga *lah*

IMG_3640

Sambil menunggu Kezia ke toilet, kami mengobrol saja dengan salah satu calo kami mau ke Pelabuhan Gilimanuk. Kontan mereka langsung mengarahkan kami ke bus Surabaya-Denpasar, setiap saya tanya harga mereka bilang nanti saja sampai bus. Hingga akhirnya sampai bus, mereka bilang, “harganya Rp 450.000 aja mbak, baru naik emang.” LAH BUSET.

Kezia ngomong dengan suara tercekik, “mending kita naik pesawat jir….”

Calo tersebut berkata bisa ditawar dan akhirnya saya tawar Rp 200.000 dan ternyata deal. Sialan, roman-romannya keanya lebih murah lagi. Ditambah lagi kezia bilang, “Eh, tapi gausah dipikirin ya. Kalo kita emang dari awal fix ke Bali tiket pesawatnya Rp 669.000, tapi karena kita naik bus lagi total pesawat dan bus Rp 691.000. Oke kalem, lupakan.” Ya, biarpun agak gondok akhirnya kami tetap melanjutkan perjalanan delapan jam menuju Gilimanuk.

IMG_3639

Well, roadtrip wasn’t that bad. Pertama, kami bisa tidur nyenyak banget karena sandaran kursi bisa dimundurin saking sepinya dan busnya pun dingin. Tapi setibanya kami di Probolinggo, banyak wisman ikut bus kami untuk menuju Denpasar, Bali. Kira-kira, 90% wisman dan 10% pribumi saat bus full terisi penumpang.

Kedua, Ternyata tiket bus sudah include makan siang prasmanan dan tiket menyebrang dari Ketapang-Gilimanuk. Bisa menghemat makan, walaupun tidak menghemat waktu perjalanan.

IMG_3641

Ketiga, ketemu orang baru. Sebelah saya orang Jerman yang juga jalan-jalan bertiga sama temannya keliling Asia Tenggara, kata dia Bali destinasi terakhir dia sebelum kembali ke Jerman dan Pertama kali ke Indonesia, dia berkunjung ke Danau Toba. Chauvinisme dalam tubuh saya menyeruak, “that’s my parent hometown!” “Wow, that’s cool!” Saya tersenyum lebar.

Keempat, pemandangannya asyik banget. Di daerah Banyuwangi, kita bisa melihat segala jenis pemandangan dari savannah, hutan, bukit-bukit, dan laut. Tak henti-hentinya kami bertiga berkata “wah gila bagus banget” selama perjalanan.

Tibalah kami di Pelabuhan Ketapang dan bus masuk kedalam suatu kapal besar yang berisi bus-bus lain maupun transportasi lain yang akan menyebrang ke Bali. Saat kami turun dari bus, bapak supir bertanya, “Kalian mau kemana?” Kami menjawab kami mau ke Menjangan tapi turun di Gilimanuk saja, ada hotel dekat sana.

Setelah kami beritahu kalau hotelnya Hotel Lestari ternyata Pak Supir tahu dan bilang kalau mereka memang lewat jalan hotel tersebut. Uyea.

Selama kami di bus, pemandangan pelabuhan yang indah dengan langit berwarna jingga pada sore hari memanjakan mata kami selama 30 menit penyebrangan.

IMG_3661

IMG_3690

IMG_3693

IMG_3696

Sekitar 15 menit perjalanan darat di Gilimanuk, kami pun diturunkan persis didepan Hotel Lestari.

Penginapan dengan Manajemen Payah

Karena hanya bertiga dan takut kemahalan untuk perjalanan, kami sudah booking Hotel Lestari saat perjalanan termasuk dengan paket snorkeling sebesar 300.000/pax. Ternyata setibanya di daerah hotel, banyak penginapan-penginapan murah lainnya yang bisa kalian datangi dengan cara go show dan justru penginapannya lebih dekat ke pusat keramaian. Bapak Ashari sebagai penanggung jawab booking di Hotel Lestari adalah orang yang sangat ramah, biarpun ternyata dia mengurus Hotel Lestari yang lebih dekat ke Menjangan. Sedangkan di Hotel Lestari, Gilimanuk pengurusnya hanya satu dan sepertinya beliau kesulitan untuk mengurus hotel tersebut sendirian. Bapak Ashari meminta maaf karena memang manajemennya sudah memburuk semenjak bapaknya meninggal. Tidak ada yang bersedia mengurus Hotel Lestari, Gilimanuk sepenuh hati.

Memang benar adanya, kami merasa kamar ekonomis Hotel Lestari sangat kotor, kipas  tidak bisa hidup, dan stop kontak hanya satu :’ Kamar mandinya terkacau kotornya, ada kecoa. Banyak kecoa bahkan. Sedih banget, ingin membantu urusin hotelnya jadinya.

Kami berjalan keluar setelah menaruh tas di kamar untuk makan dan mengambil uang ATM untuk membayar paket penginapan+snorkeling. Untunglah kami sampai di Hotel Lestari sudah malam, badan kami sudah letih dan beristirahat secepatnya tanpa perlu memikirkan kamar yang cukup tidak nyaman ini. Kami tidak sabar untuk snorkeling di Menjangan besok pagi!

Spontanitas Kedua

Mengetahui daerah Gilimanuk yang sangat sepi dan gelap, kami merasa satu hari saja cukup untuk jalan-jalan di Menjangan. Kami berencana untuk pergi jalan-jalan ke Banyuwangi dan nanti pulangnya bisa menggunakan tiket Matarmaja kami. Sayangnya, saya sebagai seseorang yang parno-an berkata bahwa Gunung Raung terlihat tidak meyakinkan.

Kezia ngasal bilang, “Yaudah yuk, Seminyak saja, naik bus dari Gilimanuk ke Denpasar terus lanjut deh ke daerah Seminyak.” Dan yak, benar saja besoknya kami berencana langsung bawa tas untuk lanjut ke Seminyak setelah snorkeling.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s